Memanen Ikan
Sekaligus Sayuran
Sabtu, 19 September 2015
Sumber
protein sekaligus vitamin dapat dipanen dalam sebuah siklus produksi pada
sistem akuaponik.
Sistem akuaponik yang memadukan teknik akuakultur dan pertanian hidroponik
mampu mengoptimalkan penggunaan air berulang kali tanpa mengurangi kualitasnya.
Mengapa bisa demikian?
Para peneliti Balai Riset Perikanan Budi daya Air Tawar (BRPBAT), Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP), di Bogor, Jawa Barat, masih berjibaku
mengembangkan teknologi akuaponik yang bisa menjawab problem semakin sempitnya
lahan dan terbatasnya ketersediaan air berkualitas untuk budi daya ikan di
perkotaan sejak 2005 hingga sekarang.
Peneliti BRPBAT, Sutrisno, menjabarkan sistem akuaponik memadukan teknik budi
daya ikan (akuakultur) dan tanaman non-tanah (pertanian hidroponik). Seperti
diketahui, teknik akuakultur dapat menghasilkan produk utama ikan air tawar
sebagai sumber protein, sedangkan pertanian hidroponik menghasilkan produk
sampingan sayuran sebagai sumber vitamin. Sumber protein sekaligus vitamin itu
dapat dipanen dalam sebuah siklus produksi.
Pada prinsipnya, imbuh peneliti BRPBAT, Imam Taufik, hampir semua jenis ikan air tawar dapat dibudidayakan dengan sistim akuaponik. Akan tetapi, bila ditinjau dari segi efisiensi waktu dan analisis ekonomi, biasanya dipilih jenis ikan yang memunyai pertumbuhan cepat dan bernilai ekonomis tinggi sehingga siklus budi daya tidak terlalu lama dan lebih menguntungkan. Jenis ikan yang dipilih antara lain ikan mas, nila, lele, dan patin.
Adapun tanaman yang dibudidayakan dengan sistim akuaponik adalah jenis tanaman atau sayuran semusim yang suka air, tahan terhadap cahaya matahari, cepat tumbuh, dan berakar serabut. Tanaman itu di antaranya kangkung darat, genjer, selada, pakcoy, kailan, cabai, tomat, terong sayur, dan stroberi.
Imam meyakini teknologi sederhana akuaponik memungkinkan untuk diterapkan di pelataran rumah hingga skala industri. Pun akuaponik dapat diterapkan di daerah dengan ketinggian 7 meter–1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Artinya, teknologi ini dapat diterapkan pada semua daerah mulai dari pesisir hingga pegunungan selama terdapat air tawar sebagai media budi daya ikan.
Sutrisno menjelaskan untuk merancang akuaponik butuh tempat yang dapat mendukung segala aktivitas ikan dan wadah yang kaya akan unsur hara untuk menanam sayuran. “Bahan-bahan untuk keperluan produksi bisa menggunakan wadah atau tempat seadanya. Namun, untuk keperluan estetika sebuah taman tentu butuh pertimbangan sebuah wadah bagus,” ujar Sutrisno, di Bogor, pekan lalu.
Bentuk dan ukuran kolam bisa didesain sedemikian rupa menyesuaikan luas lahan atau ruang yang ada. Syarat utama yang perlu diperhatikan, kolam tidak boleh bocor agar volume air tetap stabil. Mengenai bahan untuk membuat kolam bisa menyesuaikan bujet, mulai dari tanah berlapis terpal hingga menggunakan fiber.
Adapun media tanaman bisa menggunakan berbagai jenis wadah, dengan catatan tetap mempertimbangkan biaya, ukuran sesuai kebutuhan, dan kemudahan mendapatkannya. “Semua jenis wadah bisa menggunakan bahan baru atau bekas, asalkan tidak bocor,” jelas Sutrisno.
Wadah bisa menggunakan ember plastik, bak kayu yang dilapisi plastik, paralon, maupun talang air. Wadah yang dipilih selanjutnya dimodifikasi agar memiliki saringan dan saluran pengeluaran air. Saringan tersebut sekaligus menjadi media tanam untuk melekatnya akar sayuran. Filter itu terdiri atas batu apung, batu split, ijuk, sabut kelapa, dan arang kayu atau arang batok.
Re-sirkulasi Air
Setelah semua
bahan sistem akuaponik dirancang sedemikian rupa, langkah selanjutnya menata
pompa listrik serta pemipaan untuk mendistribusikan air dari kolam ke media
tanam. Sutrisno menyarankan jenis dan kapasitas pompa disesuaikan dengan skala
akuaponik agar terjadi re-sirkulasi air dari kolam ikan menuju media tanam.
Selama proses re-sirkulasi air, akumulasi limbah budi daya ikan berupa sisa pakan yang tidak dimakan ikan, produk sekresi berupa fases (kotoran), maupun urin ikan akan dialirkan menuju media tanam sebagai sumber nutrien untuk pertumbuhan sayuran. Disebut sumber nutrien karena akumulasi limbah yang mengandung N dan P.
“Sistim akuaponik tersebut tidak menghasilkan limbah (nirlimba) karena sisa aktivitas budi daya dapat teruarai oleh bakteri, plankton, dan tanaman yang dirancang dengan sistem re-sirkulasi air,” tambah Imam.
Pada prinsipnya, sumber pencemaran air budi daya berupa sisa pakan dan kotoran ikan yang banyak mengandung unsur N dan P akan terangkat (tersedot) oleh pompa dan dialirkan ke media tanam. Selanjutnya, akar tanaman akan “menangkap” kotoran dan sisa metabolisme ikan dalam air yang kaya akan unsur N dan P dan memanfaatkannya sebagai sumber nutrien untuk pertumbuhan serta pembentukan daun dan buah.
Melalui proses re-sirkulasi dalam sistem akuaponik, air kolam akan terus terpurifikasi sehingga kualitasnya (sifat fisika dan kimia air) menjadi lebih baik. Hal ini karena media tanam sayuran yang didesain sedemikian rupa sejatinya adalah filter.
“Proses re-sirkulasi memungkinkan air yang digunakan tidak perlu diganti selama periode pemeliharaan ikan dan sayuran,” terang Sutrisno. Walau begitu, kolam perlu ditambah air secukupnya secara berkala untuk mengganti air yang hilang akibat proses penguapan yang alami pada periode budi daya ikan maupun sayuran.
Dari hasil penelitian, lanjut Sutrisno, sistim akuaponik mampu menghemat air sebesar 700 persen. Tidak hanya itu, proses re-sirkulasi dapat mereduksi amonia dalam air hingga 90 persen. Sekadar informasi, kandungan amonia dari hasil metabolisme ikan dan pembusukan senyawa organik oleh bakteri ini mempengaruhi pertumbuhan.
Selain itu, sistem akuaponik dapat menurunkan kadar nitrit dari 4,4 miligram per liter (mg/l) menjadi 0,013–0,25 mg/l. Kandungan nitrit dalam perairan dapat menghambat kemampuan darah biota air dalam mengikat oksigen sehingga biota ini akan terserang methaemoglobin yang dapat menyebabkan kematian.
Sumber :
Wredho, Agung. ( 2014, 27 April).
Memanen Ikan Sekaligus Sayuran. Diakses tanggal 19 September 2015 dari, http://www.koran-jakarta.com/?10854-memanen%20ikan%20sekaligus%20sayuran.
Disusun oleh : Dicky Putra W
(13/345630/PN/13083)

Analisis acara Cyber Extension
BalasHapusNama : Rosiana Nafilatul Azizah
NIM : 13122
Gol/kelompok : A5/3
A. Nilai Penyuluh
1. Sumber teknologi atau ide
Teknik akuaponik yaitu teknik gabungan dari teknik akuakultur (budidaya ikan) dan pertanian hidroponik yang dapat mengatasi permasalahan terbatasnya ketersediaan air berkualitas. Akuakultur adalah kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik dilingkungan terkontrol dalam rangka mendapat keuntungan (profit). Sedangkan pertanian hidroponik yaitu kegiatan menanam tanaman non-tanah.
2. Sasaran
a. Langsung
Masyarakat atau semua orang
b. Tidak langsung
Skala industri atau agen sarana produksi
3. Manfaat
Ketersediaan air dan tempat yang terbatas dapat menghasilkan keuntungan yang disebabkan karena kegiatan akuakultur di masyarakat. Setelah ikan dipanen, kolam dapat dibersihkan dan dasar kolam serta kotorannya dapat dipergunakan sebagai pupuk tanaman yang memiliki kualitas tinggi.
4. Nilai pendidikan
Teknik akuakultur menghasilkan sumber-sumber zat yang bermanfaat bagi masyarakat yang mengonsumsinya. Misalnya sumber protein dari ikan yang dibudidayakan, sedangkan pertanian hidroponik menghasilkan produk sampingan sayuran sebagai sumber vitamin. Sumber protein sekaligus vitamin dapat dipanen dalam satu siklus produksi.
B. Nilai Berita
1. Proximity
Teknik akuakultur ini merupakan kegiatan yang dekat dengan masyarakat, itu dapat dilihat dari kegiatan tersebut dapat dilakukan di pekarangan rumah dengan ketersediaan air yang tidak banyak dan tidak menghabiskan banyak lahan.
2. Importance
Teknik akuakultur memiliki beberapa syarat yang digunakan agar menghasilkan keuntungan, yaitu dengan pemilihan jenis ikan yang digunakan dan tanaman yang akan ditanam. Jenis ikan yang digunakan yaitu ikan mas, lele, dan patin. Sedangkan tanaman yang dipakai yaitu kangkung, cabai, dam tomat.
3. Prominence
Kegiatan pertanian yang dapat meningkatkan nilai tambah yang cukup efisien yaitu akuakultur. Akuakultur memerlukaN dukungan dari beberapa pihak terkait, salah satunya para peneliti Balai Riset Perikanan Budi daya Air Tawar (BRPBAT), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di Bogor, Jawa Barat.
4. Development
Teknik akuakultur ini memiliki efisiensi waktu yang cukup dan bernilai ekonomis tinggi sehingga masyarakat dapat diuntungkan.
5. Weather
Musim kemarau yang terjadi di Indonesia dapat mempengaruhi kegiatan teknik akuakultur, karena teknik akuakultur ini dapat menyimpan air pada tanamaan yang cukup banyak dari biota (ikan) yang dibudidayakan.